Tren Buku Motivasi yang Gemar Memaki

Terus terang, ketika mengejar hak terbit buku Mark Manson, The Subtle Art of Not Giving a F*ck, saya harus berpikir berkali-kali. Judulnya yang kasar dan mengandung kata f*ck itu akan dikemas seperti apa?

Meski judulnya kasar, kenyataannya buku itu berhasil menyita perhatian para pembaca buku. Pembacanya pun kebanyakan orang-orang muda; ini tampak dari banyaknya postingan buku tersebut di media sosial. Selebritas-selebritas pun mengendorse buku tersebut tanpa disuruh (sampai-sampai Chris Hemsworth pun memposting di akun Instagramnya).

Bahkan di Indonesia, buku terjemahannya langsung cetak ulang 5000 eksemplar dalam jangka waktu tidak ada 1 bulan; buku ini terbit 5 Februari, dan pada 25 Februari sudah cetak ulang yang kedua. Jadi, saya pun bertanya-tanya: apakah orang sedang suka dengan yang kasar-kasar seperti ini?

Buku ini sebenarnya unik. Buku ini adalah buku motivasi, dan berkaca pada buku motivasi (self-help) yang pernah ada, sangat aneh bahwa buku ini dikemas dengan judul yang kasar, dan gaya bahasa di dalamnya yang tanpa sopan-santun.

Coba lihat kutipan ini:

Pengambilan keputusan berdasar intuisi emosional, tanpa dibantu penalaran agar tetap pada jalurnya, biasanya membuat sesak di akhir. Apakah Anda tahu siapa yang menyandarkan seluruh hidup pada emosinya? Balita. Dan anjing. Anda tahu selain balita dan seekor anjing? Tahi di karpet.

Uraian di atas tidak akan pernah keluar dari motivator-motivator pada umumnya. Coba pernahkah Anda membayangkan, Mario Teguh di program Mario Teguh Golden Ways, mengeluarkan ucapan-ucapan semacam: tahi, bodoh, keparat, atau bodo amat? Yang sering kita dengar adalah ucapan-ucapan yang menyejukkan, seperti: super sekali, baik sekali, dan semacamnya.

artikel 1
Generasi milenial tampak nyaman dengan gaya bahasa yang terus terang.

Tapi barangkali justru di situ titik baliknya. Titik baliknya adalah: hidup tidak semudah cangkeme Mario Teguh hidup tidak seindah mulut motivator. Orang-orang mulai merindukan buku yang mengafirmasi kegemasan mereka akan kata-kata positif yang hari demi hari seolah berlari terlalu jauh dari kenyataan. Kata-kata positif sebatas gimmick atau dekorasi untuk mendapatkan klien.

Ketimbang mengulang-ulang salam super, lihatlah apa yang dikatakan Mark Manson:

Sebagian besar dari antara kita bisa dikategorikan “biasa-biasa saja” pada hampir semua hal yang kita kerjakan. Bahkan meskipun Anda istimewa di suatu hal, kemungkinan yang ada adalah bahwa Anda berada di tengah-tengah atau justru di bawah rata-rata pada hal lainnya. Seperti itulah kodrat kehidupan.

Jika kita jeli melihat pasar, ternyata ada buku-buku yang senada dengan Mark Manson. Setidaknya dari judulnya, kita melihat ada kesamaan: memakai kata-kata makian. Misalnya: You Are a Badass: How to Stop Doubting Your Greatness and Start Living an Awesome Life, You Are a Badass at Making Money: Master the Mindset of Wealth, Unf*ck Yourself, How to Make Sh*t Happen, Sh*t I Can’t Remember, Get Your Sh*t Together, dan semacamnya. Sebagian besar dari judul tersebut juga membukukan catatan penjualan yang baik.

pilih mas dito
Terjemahan  buku Mark Manson dalam Bahasa Indonesia. (© @cexel27)

Sebenarnya, ini bukan sesuatu hal yang istimewa. Ini barangkali hanya sebuah variasi tren. Tren positive psychology telah bergerak ke titik jenuh. Orang sudah jenuh mendapatkan induksi dari kalimat-kalimat afirmasi positif. Kini pasar membutuhkan fakta-fakta yang melegakan, yang lebih realistis.

Muaranya sebenarnya sama, buku yang menuntun pada perbaikan hidup. Hanya saja, pendekatan yang satu dirasa mulai tidak relevan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s