London Book Fair

Merayakan Perbukuan Sekembalinya dari London Book Fair 2019

Pada 12-14 Maret 2019, di kota London, tepatnya di Olympia Hall, Kensington, ada gelaran menarik. Dunia mengenalnya sebagai London Book Fair. Tahun 2019 ini adalah gelaran yang ke-48 kalinya, alias sudah 48 tahun diadakan. Bukan waktu yang singkat. Tema yang diangkat Taking Words Further Content Across Media.

London Book Fair, berkembang dari pameran dagang pustakawan yang disebut Pameran Penerbit Spesialis untuk Pustakawan (SPEX) yang dimulai pada 5 November 1971 oleh Clive BIngley dan Lionel Leventhal. Bingley ingin memberi platform penerbit kecil agar dengan mudah menunjukkan judul mereka kepada pustakawan. Lokasi dipilih karena kedekatannya dengan Asosiasi Perpustakaan, dan tanggal itu dipilih karena bertepatan dengan pertemuan dewan bulanan di sana, yang akan dihadiri oleh sejumlah pustakawan luar kota. 

Pameran pertama itu sukses, sehingga  BIngley dan Leventhal ingin merutinkan acara tersebut. Pasangan ini membuat pameran kedua pada November 1972. Bloomsbury Centre Hotel menjadi tuan rumah bagi Pameran Penerbit Kecil dan Spesialis yang telah berganti nama. Cakupan dan pengaruh acara tumbuh dan mulai mencakup penerbit yang lebih besar dan lebih umum. Pada 1977, SPEX resmi ditanggalkan, dan berganti judul menjadi London Book Fair.

Ada Apa di London Book Fair?

London Book Fair sekarang dianggap sebagai yang kiblat kedua bagi dunia perbukuan, setelah Frankfurt Book Fair. Dalam sejarah 48 tahun memimpin pasar dan pameran buku, lebih dari 60 negara secara teratur memamerkan, pengunjung datang dari 135 negara, dan ada 25.000 profesional penerbitan yang hadir. Menurut Jacks Thomas, Direktur dari London Book Fair, penerbit buku datang ke London untuk memublikasikan judul mereka yang akan datang, dan untuk menjual serta membeli hak terjemahan buku dari penerbit lain.

Pameran ini sendiri mencakup berbagai kepentingan dan pasar dalam industri penerbitan, termasuk negosiasi hak dan penjualan dan distribusi konten di seluruh saluran cetak, audio, TV, film, dan digital, serta bentuk penerbitan yang lebih tradisional. Ada banyak kegiatan sepanjang London Book Fair, mulai dari pertemuan bisnis antara perusahaan penerbitan, pengenalan judul buku kepada pembaca dan pengunjung, pengumuman hadiah dan penghargaan, serta banyak lokakarya dan seminar untuk membahas masalah dan tren terkini dalam industri perbukuan.

Semegah Ini, Demi Buku?

Kemunculan kindle, gawai pembaca buku digital besutanAmazon pada awal 2007 sempat memantikkan kekhawatiran. Peranti ringan buatan raksasa ritel daring terbesar itu disinyalir akan menggantikan buku cetak konvensional (printed books). Banyak kalangan meramalkan, dunia perbukuan cetak ada di ambang senjakala, alias sekarat. Bahkan seorang teman sempat bertanya langsung pada saya, “Gimana dunia perbukuan sekarang? Katanya udah nggak sebagus dulu?”

Jawab saya singkat, “Itu hoaks!” Pasalnya, kalau Anda sempat mampir di perhelatan London Book Fair atau pameran buku dunia lain, seperti Bologna Children Book Fair (yang khusus untuk buku-buku anak), atau Frankfurt Book Fair, di Jerman yang lebih besar lagi daripada kedua pameran buku dunia itu, Anda pasti akan mengamini perkataan saya. Para peserta pameran ataupun pengunjung yang sebagian besar adalah penerbit yang akan membeli hak terbit (rights) dari penerbit lain, berjubel di tempat itu. Interaksi inilah yang meneguhkan harapan bahwa buku cetak tidak tergantikan.

The Guardian pernah mengulas perbandingan penjualan buku cetak dengan buku digital pada 2016, dalam artikelnya (14 Maret, 2017), berjudul Ebook sales continue to fall as younger generations drive appetite for print.

Lebih dari 360 juta buku terjual pada 2016 — naik 2% dalam setahun, yang artinya: konsumen Inggris membelanjakan 6% ekstra, atau £100 juta untuk buku-buku dalam format cetak dan ebook (digital), menurut temuan kelompok riset industri Nielsen dalam laporan tahunan survei buku dan pembelinya. Data itu juga mengungkapkan kabar baik untuk toko buku fisik, karena ternyata ada kenaikan penjualan sebesar 4% di seluruh Inggris.

Ketika penjualan melalui toko-toko mengalami peningkatan 7% pada 2016, penjualan ebook rupanya menurun sebesar 4%. Tahun ini adalah untuk kedua kalinya secara berturut-turut, penjualan ebook telah jatuh, dan penurunan ini baru terjadi dua kali sejak pemantauan resmi oleh badan industri dalam satu dekade ini. 

Pada 2015, Asosiasi Penerbit menemukan bahwa penjualan konten digital turun dari £563 juta pada 2014 menjadi £554 juta, sementara penjualan buku fisik meningkat dari £2,74milyar menjadi £2,76 milyar. 

Secara sederhana, dari pengalaman kunjungan singkat saya ke London Book Fair 2019, saya berani menyimpulkan bahwa dunia masih membaca. Sungguh berita yang bagus, bukan? Dengan kata lain, buku masih memegang peran penting sebagai komoditas strategis yang menggerakkan roda ekonomi. Kemegahan book fair tersebut merupakan sebuah konsekuensi logis, yang patut dirayakan.

Catatan dari LBF

Tak kalah menarik, sebagai catatan pinggir selain menyoal buku cetak yang masih memikat, di London Book Fair 2019 kali ini, Indonesia menjadi market focus (tamu kehormatan), dan menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang mendapat kehormatan itu. Tema yang diangkat masih sama seperti ketika Indonesia menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair, yaitu 17.000 Islands of Imagination

Sebagai market focus, Indonesia mendapat kesempatan untuk memperkenalkan konten literasi, penerbitan, serta industri kreatif, seperti arsitektur, fesyen, kuliner, dan juga game kepada publik Inggris dan pasar internasional. Komite pelaksananya adalah Bekraf, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Komite Buku Nasional. Ada 12 penulis Indonesia yang diikutsertakan di ajang ini, seperti Agustinus Wibowo, Clara Ng, Dewi Lestari, Faisal Oddang, Intan Paramaditha, Laksmi Pamuntjak, Leila S. Chudori, Nirwan Dewanto, Norman Erikson Pasaribu, Reda Gaudiamo, Seno Gumira Ajidarma, dan Sheila Rooswitha Putri.  

Kabar baiknya, dalam pameran buku ini, Indonesia berhasil menjual 23 judul buku dan 408 judul lain yang masih dalam tahap negosiasi, serta meraup tiga milyar dari penjualan buku-buku tersebut.

Suasana dalam pameran LBF 2019 (credit: Joko Wibowo)

Tulisan ini dibuat pada 30 Maret 2019, sebagai catatan kecil keikutsertaan di The London Book Fair 2019.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s